Langkah Maju Pascasarjana UNJ Hadirkan Adjunct Professor Kelas Dunia

Langkah Maju Pascasarjana UNJ Hadirkan Adjunct Professor Kelas Dunia

Senin (1/7/ 2019). Dalam rangka meningkatkan mutu akademik dan publikasi dosen dan mahasiswa 2019/2020 Pascasarjana UNJ menghadirkan Adjunct Professor kelas dunia dalam forum loka karya. Ada dua Profesor yang sengaja dihadirkan berasal dari Indonesia yang menjadi Professor di universitas kelas dunia.

Dua Profesor tersebut adalah Prof. Dr. Anton Satria Prabuwono, SMIEEE (Profesor dan salah satu peneliti terbaik di tingkat Internasional, Associate Professor at Faculty of Computing and Information Technology, King Abdulaziz University, Saudi Arabia) dan Prof. Dr. Maman Abdurachman Djauhari, Bsc., DEA (Profesor, Statistikawan Indonesia terkemuka, alumni mathématiques Murni et Appliquee Université des Sciences et Techniques de Montpellier, Perancis )

Lokakarya Perdana Pascasarjana UNJ ini bertempat di ruang rapat besar Pascasarjana UNJ lantai 5 Gedung Bung Hatta. Lokakarya ini mengambil tema “Meningkatkan Mutu Akademik dan Penguatan Kelembagaan.”

Dalam sambutanya Plt. Direktur Pascasarjana UNJ Prof.Dr.Ilza Mayuni,MA mengemukakan bahwa Lokakarya ini adalah upaya untuk terus meningkatkan kualitas Pascasarjana UNJ yang diharapkan berdampak pada upaya meningkatkan citra universitas melalui karya nyata dibidang akademik, sehingga pada akhirnya kita mencapai visi menjadi Pascasarjana bereputasi ditingkat Asia.

Acara lokakarya juga mendapat apresiasi dari Plt. Rektor UNJ Prof.Intan Ahmad,Ph.D. Dalam sambutanya Prof.Intan Ahmad mengemukakan bahwa upaya menghadirkan Adjunct Professor adalah langkah penting untuk terus berupaya meningkatkan kualitas akademik. Oleh karenanya saya sangat mengapresiasi langkah Pascasarjana UNJ untuk menyelenggarakan lokakarya bersama Adjunct Professor ini.

Diantara paparan singkatnya Prof.Dr.Anton Satria Prabuwono,SMIEE mengemukakan betapa pentingnya memproduksi artikel jurnal yang terindeks dan untuk memotivasinya patut diberikan reward oleh lnstitusi. Meskipun kini di Malaysia dan negara-negara maju tidak ada lagi reward khusus bagi dosen yang artikelnya dimuat jurnal internasional karena sudah menjadi kebiasaan yang otomatis melekat pada seorang dosen. Menurutnya, universitas di negara-negara maju standar jurnalnya sudah banyak yang tidak lagi menggunakan standar terindeks Scopus tetapi sudah masuk ke level yang lebih tinggi yaitu Nature index.

Sementara Prof. Dr. Maman Abdurachman Djauhari, Bsc., DEA mengemukakan bahwa di pascasarjana program doktor itu betapa pentingnya spirit untuk ‘belajar’ menciptakan ilmu pengetahuan baru, untuk berfikir menjawab pertanyaan “apa yang sudah kamu buat dibidang ilmu pengetahuan yang kamu geluti?”. Pertanyaan ini penting dijawab untuk membangun apa yang disebut dengan budaya ilmiah di universitas khususnya di Pascasarjana. Bimbingan disertasi itu penting secara serius sebab itu sesungguhnya bagian dari transfer of academic culture kepada mahasiswa. Selain itu Prof.Maman mengingatkan pentingnya memiliki international networking dibidang ilmu pengetahuan yang kita geluti. Untuk itu setiap dosen penting memiliki research gate agar bisa berselancar berkomunikasi dengan jutaan ilmuwan diseluruh dunia.(ub&bp)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *